Posts

Showing posts with the label economics

Net Ekspor Indonesia (1)

Image
Ribut-ribut soal kebijakan ekonomi era Presiden JKW pada pra PEMILU 2019, dengan segala opini para cebong dan kampretnya yang selalu saling serang dan beradu mulut di sosial media, justru menarik perhatian penulis sebagai pribadi yang menggeluti ilmu ekonomika keuangan. Melansir ulasan kompas.com terkait klaim negatif partai oposisi terhadap pemerintahan JKW-JK tentang kinerja ekonomi nasional, yaitu: (1) membengkaknya utang hingga pelemahan rupiah , dan (2) ekonomi dinilai minim serap tenaga kerja . Tentu saja untuk masyarakat Indonesia bisa jadi langsung gentar mendengar kata “utang”, seolah-olah “utang” adalah tindakan kriminal, bahkan dosa. Belum lagi nilai tukar rupiah yang melorot, seolah-olah pemerintah tidak memberikan kemakmuran bagi rakyat (baik yang kaya dan yang miskin) namun justru mengantarkan pada pintu krisis ekonomi. Pelabuhan Tanjung Priok difoto dari udara. Tanjung Priok adalah pelabuhan utama di Indonesia yang menjadi pintu gerbang pertukaran komoditas Inter...

Homo Digitalis (4): Pengangguran, Jejaring dan Ekonomi Informal (bagian II)

Image
“Masih nganggur aja! Kenapa gak jadi wirausaha aja, lo dah S-2 sayang kali kalau cuma jadi jongos di perusahaan, lagipula jarang lah perusahaan ngasih gaji lebih tinggi, kenyataannya gak jauh beda sama yang lulusan S-1..” Tidak jarang memang opini semacam itu dilantunkan oleh kebanyakan orang sebagai bentuk simpati dan sekaligus tawaran solusi kepada seorang temannya yang sedang menganggur. Tidak salah memang opini tersebut, namun menjadi wirausaha itu tidak gampang dijalankan, itu hanya mudah untuk diucapkan. Menjadi karyawan itu jauh lebih enak, nunggu disuruh-suruh aja, asal bisa bermuka manis dengan atasan, pinter-pinter berpolitik dalam organisasi, tahan dengan drama-drama yang terjadi di antara teman sejawat, terima dan bersyukur dengan gaji yang segitu-segitu aja. Dalam hal ini, menjadi wirausaha itu perlu mengubah pola pikir dan bahkan falsafah hidup. Artikel ini adalah lanjutan dari ulasan sebelumnya (lihat: Pengangguran, Jejaring dan Ekonomi Informal bag. I ) )mengenai rela...

Homo Digitalis (4): Pengangguran, Jejaring dan Ekonomi Informal (bagian I)

Image
"Masih saja menganggur setelah lulus S2, ampun deh ngapain aja lo!" Membaca beberapa ulasan dari netizen dalam berbagai blog, menemukan isu yang menurut saya cukup mengena di diri saya pribadi. Sudah selesai program Master justru malah terjebak dalam zona pengangguran. Selamat datang! Saya ucapkan untuk para lulusan magister baru...  Lagi pundung akibat sulit diterima kerja, sumber:  drexel.edu )  Dunia pengangguran itu adalah dunia yang menyenangkan, selama anda mampu membatasi konsumsi, betah sendiri dan tahan menahan segala bentuk terpaan badai kenyinyiran, julid dan suudzon. Sejujurnya, menganggur itu adalah surga kecil yang hadir di dunia kapitalisme ini. Menganggur adalah setidaknya sebagai simbol anda sebagai manusia bebas. Ia menjadi oase bagi para budak-budak kaum kapitalis. Padang rumput hijau luas di luar kandang peternakan bagi sapi-sapi potong. Buah ranum manis hutan di luar area pertanian. Rasa gamang hati dan gentar peduli akibat anda menganggur...