Posts

Showing posts with the label culture

Sic Mundus Creatus Est

Image
"Tampaknya, kefanaan ini memang sekonyong-konyong menjadi begitu berharga di hadapan ketiadaan." “Tic Tac Tic Tac Tic Tac…” begitulah yang diucapkan Helge Doppler, ia adalah seorang karakter pada serial film Dark. Ya, semenjak masa pageblug ini melanda dunia, kesadaranku diajak menelusuri lorong-lorong labirin pikiran. Aku pikir aku memang gila ringan, dan menonton tayangan Netflixlah menjadi paracetamol akan hal itu. Ah ya pageblug, apa yang baru dari hal itu, toh sejak zaman Nabi Musa pun juga sudah melanda bangsa Mesir, toh Albert Camus juga sudah bercerita panjang lebar dari sudut pandangnya. Sebuah cerita-cerita yang sejak masa-masa terpenjara di sekolah menengah sudah kunikmati lembar demi lembar bacaannya, terkait bagaimana kita memperjuangkan kehidupan ini secara habis-habisan. Mungkin ada benarnya juga, apabila sedang bergumul hendaknya jangan menonton tontonan yang be-rating tinggi. Sebaiknya tontonlah film-film action atau drama-drama remaja chicklit saja… Ah, ya ...

Homo Digitalis (3): ‘Pelipatgandaan’ Informasi dan Mikro Politik Keagamaan di Ruang Maya (bagian II)

Image
Dalam unggahan sebelumnya, penulis memaparkan masalah dan konsep terkait keberuangan subjek di ruang privat, publik dan maya [Lih. Homo Digitalis (3): ‘Pelipatgandaan’ Informasi dan Mikro Politik Keagamaan di Ruang Maya (bagian I) ]. Untuk ulasan selanjutnya, penulis akan memaparkan konsepsi akar rimpang untuk menjelaskan problem pelipatgandaan di ruang maya, dan keterkaitannya dengan kehidupan beragama. Jejaring Akar Rimpang dan ‘Pelipatgandaan’ di Ruang Maya Jika masalah ruang maya adalah ‘pelipatgandaan’ informasi yang berakibat pada tidak bertambahnya ruang baru dan keragaman, maka apakah hal ini mengacaukan momen dialektis para warga net dalam menciptakan Sittlichkeit ? Migrasi digital masyarakat warga menjadi warga net tidak begitu saja mejadikannya ‘bermukim’ total di ruang maya. Mereka hanya mengalami secara semiotik masalah ‘pelipatgandaan’ informasi ini, yang akan selalu tersublimasi dan termanifestasi dalam alam bawah sadar individu. Jika kesadaran manusia hanyalah has...

Homo Digitalis (3): ‘Pelipatgandaan’ Informasi dan Mikro Politik Keagamaan di Ruang Maya (bagian I)

Image
Dunia digital adalah dunia yang sama sekali baru bagi manusia yang ingin bermukim. Keterhubungan antar manusia itu sendiri dan manusia dengan teknologi menjadikan munculnya kekisruhan yang sama sekali baru di era digital ini. Dalam relasi yang multi-dimensional ini, manusia lantas seolah selalu tertipu dengan persepsinya sendiri untuk mengapropriasi suatu kebenaran di dalam ruang maya ini. Perkembangan di dalam ruang maya ini sendiri menjadi tidak tentu arah, beragam masalah di dunia nyata pun muncul dengan latar belakang komunikasi. Sebut saja beragam kekisruhan politik suatu negara akibat suatu hal yang bergema di ruang publik digital, yang pada akhirnya gaung tersebut hadir di ruang nyata tanpa kendali, begitu besar dan mengejutkan hingga mampu menggulingkan tata politik yang berkuasa. Sebutlah, kontroversi terpilihnya Presiden Trump pada tahun 2016 yang lalu, atau pada tahun 2011 yaitu aksi kerusuhan di Mesir yang dipicu oleh beredarnya berita seorang pedagang kaki lima, yaitu Mo...

Masih Pentingkah Mengejar Pendidikan hingga Jenjang Doktoral?

Image
Apakah aku harus menempuh sekolah lagi? Masih perlukah aku memenuhi sebuah janji diri? Masih mampukah aku melakukan sebuah pekerjaan yang mungkin saja itu tidak berarti? Bagaimana jika aku gagal lagi? Untuk apakah kulakukan ini semua? Entahlah… Feodalisme dalam industri pendidikan demi mencetak struktur berpikir yang seragam. Sumber gambar: alexmorellon.deviantart.com Pertanyaan diatas adalah hasil  overthingking saya atas pertanyaan seorang kawan yang mengingatkanku untuk terus melanjutkan ke Akademia hingga jenjang tertinggi, yaitu tempat dimana para filsuf dibimbing dan diberikan cara hidup dengan disiplin ketat. Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa kuhentikan. Lalu lalang dan serba lansir di dalam benakku. Yah hidup yang sudah di siang bolong ini dan masih menjadi gelandangan memang tidak mudah untuk dijalani. Yah jika sudah seperti ini, masih perlukah kata-kata sakti motivasi? Sepertinya ‘ya’ namun memang sayanya saja yang kelewat bebal, jadin...

Homo Digitalis (1): Sebuah tanggapan

Image
Manusia dan dunia adalah masalah filsafat eksistensialisme, akan tetapi dengan kelahiran dunia baru, yaitu dunia digital, apakah lantas hal ini kemudian menjadikan membuka kembali persoalan eksistensialisme? Artikel ini adalah upaya refleksi penulis terkait dengan kesadaran akan tata dunia baru dengan kehadiran cyberspace ini. Dunia virtual ini sendiri lahir di era kapitalisme lanjut, sebagai bagian dari globalisasi. Era pertukaran informasi tanpa batas dan laju modernisasi yang melahirkan berbagai macam modus-modus baru pada manusia sebagai agen utama dalam kehidupan ini. Revolusi Perancis yang menuntut pemisahan antara kekuasaan Agama dan kekuasaan Negara, Sumber gambar: historyjk.blogspot Artikel ini sendiri berangkat dari tulisan Homo Digitalis karya F. Budi Hardiman yang terbit di harian Kompas pada hari Kamis tanggal 1 Maret 2018, yang berangkat dari keterlemparan dan kecemasan manusia sebagai Dasein. Manusia dan dunianya adalah suatu kondisi yang tidak terpisahkan,...