Posts

Imaji-imaji Relasi menurut Carol Gilligan (1)

Dalam keseharian kita, sering kali kita tidak pernah memikirkan, mengapa aku jatuh Cinta dengan Ia. Sering kali bahwa Cinta di pahami sebagai letupan-letupan emosi, ekspresi-ekspresi jiwa, yang tidak pernah cukup untuk didefinisikan, dirumuskan, atau bahkan diukur. Namun mungkinkah Cinta ada tanpa adanya relasi? Manakah yang tepat, cinta mendahului relasi, atau relasi mendahului Cinta? Tentu saja untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu membahas apa-apa saja dari keduanya? Sungguh sulit bagi saya yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah di Fakultas Filsafat, untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun saya ingin mencoba berangkat dari rerangka pikir Romo Magniz yang membahas etika kepedulian, etika, etika laki-laki (Magnis-Suseno 2005, 236) , yang menggunakan kritik Carol Gilligan atas etika Kantian dalam rerangka etika Kohlberg. Tuduhan yang dilangsungkan Gilligan bak bom bagi etika keadilan, yang menjadikannya berbeda dari etika-etika feminis yang telah dipublikasikan pada masa i...

Manusia dan Cinta

Image
Sumber gambar:  http://www.loopedblog.com/wp-content/uploads/2012/02/love-is-dead.jpg Manusia, Cinta dan Tuhan setali tiga uang sama dengan Misteri. Tidak pernah seorang pun yang mampu mendefinisikan Cinta, ia hanya mampu diekspresikan, apakah ia hidup ataukah dia mati, tidak pernah seorang pun yang tahu. Banyak orang bilang bahwa Cinta bukan berada di ranah logika, Cinta itu pakai rasa, pakai hati. Cinta pun juga sering dituding sebagai penyebab berbagai masalah, dari kebodohan laki-laki, misal ungkapan-ungkapan seperti “Kok, mau sih lo digituin sama Cewek lo? Lo tuh cuma dijadiin pasar Swalayannya aja!” atau pengorbanan dan siksa batin perempuan “Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku sudah memberikan segalanya buat dia, tapi kok dia tega serong dan dia pun memukuli aku, dia selalu kasar... [sambil larut dalam isak tangis di tengah curhatannya]”. Cinta itu mengandung unsur drama, Cinta itu membuat orang menjadi lembek, namun karena Cinta, manusia sanggup melampa...

Waktu (bagian kedua)

Image
Sumber gambar: http://www.illusionsgallery.com/To-the-Unknown-Land-Leighton-L.jpg Dalam keseharian ada kalanya kita berkata kepada lawan bicara: “Maaf, saya tidak punya waktu!”, “Seandainya saja aku masih punya waktu...”, “Masalahnya, waktunya sudah habis...”, “Ah! Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu...”, “Aduh, kapan ya, saya masih sibuk dan repot ini” “Seandainya saja aku bisa memutar ulang waktu kembali..” Ulasan kali ini berbeda dengan posting sebelumnya terkait dengan dimensi waktu secara fisika. Kali ini saya akan meninjau dari gagasan dan konsep yang lebih mendasar.  Tentu saja waktu bagi saya merupakan suatu konsep horor yang mampu menjangkar keberadaan manusia. Coba bayangkan anda dapat menyadari waktu dari setiap detik-demi detiknya, dan anda menyadari belum ini, ingin itu, gagal disini, waktu yang datang secara sekuens ekstrim dalam hidup anda... Saya yakin siapapun pasti akan jadi gila karena terteror dengan dirinya sendiri. ...

Blogger, Komunikasi Dunia Maya dan Ruang Publik

Image
Memang pernyataan Romo Magnis sepintas memberikan sambaran geledek bagi umat yang memiliki devosi kepada Santa Perawan Maria. Tentu saja hal ini akan menimbulkan polemik di umat beragama, namun justru itu pentingnya bahwa dengan adanya pernyataan itu akan menimbulkan dialektika yang diharapkan justru akan berdampak pada anti-fanatisme itu sendiri. Kasus yang membuat saya cukup geli adalah ketika membaca artikel dari seorang blogger , seolah Romo Magnis ini diposisikan seperti kawannya sendiri, hmmm... kasus ini kemudian semakin lama justru semakin lama mengganggu pikiran saya, karena sepertinya memang berpendapat itu sah-sah saja, penyampaian tidak santun pun diizinkan, namun dalam perihal komunitas dan bermasyarakat, penulis ini diasumsikan cukup siap juga untuk kritik pedas yang secara personal untuk kita bongkar logikanya. Romo Franz-Magniz Suseno S.J. saya tidak mengenalnya secara pribadi, namun saya cukup mengaguminya. Bahkan rohaniwan berdarah Jerman ini sempat saya dengar d...

Uang (Bagian Kedua)

Image
Sumber Gambar:  http://www.californiaelderabuselawyer-blog.com/wp-content/uploads/sites/132/2015/11/money-and-pills-2.jpg Dalam ranah ekonomi kehadiran uang dipercaya mampu mengatasi masalah-masalah ketidakefisienan dalam transaksi pertukaran barang dan jasa di sistem yang tidak mengenal uang (baca: barter). Paling tidak dapat mengatasi masalah-masalah yang terkait dengan, antara lain: (1) waktu, (2) kesetaraan dan keadilan (fairness) , (3) standarisasi, dan (4) akumulasi kemakmuran . Namun apabila kita terbang lebih tinggi untuk melihat apa yang terjadi antara uang dan manusia, uang nampaknya memiliki efek samping yang cukup berbahaya akibat kemampuan mereduksi nilai-nilai yang melekat pada manusia itu sendiri dan sehingga seseorang tersebut hanya bergumul dengan masalah keterasingan dengan dirinya sendiri. Alam manusia dan pikirannya, memiliki kadar misteri yang sama dengan Tuhan. Pernyataan ini sangat mengerikan bukan? Namun untuk memahami manusia dan uang dalam tingka...

Cantik

Image
Cinta itu ada, tapi cinta adalah sesuatu yang abstrak, karena ia tidak tampak di depan mata saya, tak dapat saya sentuh tak dapat saya ajak mengobrol. Indera saya belum dapat merasakan kehadirannya, tapi bukan berarti ia tidak ada. Cinta itu pasti sangat cantik, karena saya adalah seorang laki-laki. Kecantikan tidaklah abstrak. Saya akan menjelaskannya secara visual, tulisan ini pun disampaikan secara visual. Jika menurut anda itu dangkal, ya itu cukup sesuai dengan saya yang cintanya masih abstrak. Mungkin laki-laki yang telah fasih mengalami cinta akan mengatakan kecantikan tidak hanya rupa. Rupa hanyalah bagian darinya yang utuh. Untuk itu lah pengalaman saya hanya cukup untuk menjelaskan bagian yang tidak utuh ini. Penjelasan dari apa itu cantik adalah sebagai berikut. Eva Green sumber : http://www.deviantart.com/art/Princess-Sybilla-100486547 Itu lah cantik. Bahkan untuk gambar wajah saja saya tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Karena gambar ini sudah begitu ...

Kaleidoskop 2015

Image
Pada akhirnya tiba juga pada detik-detik penghujung tahun 2015, Kini... Perahuku sudah berlayar Dermaga dibelakangku pun sudah terbakar Kini aku menuju samudera luas beratap awang-awang Meninggalkan segala kerinduan akan tanah tenang Matahari indah merona merah, terbenam sudah Malamku dan dinginnya cakrawala kini tibalah Hanya ada senandung rindu, nyanian lirih kegelapan Berteman dengan zabur, bertembang kekelaman Namun, aku telah menemukan bintangku Sinarnya gemerlap merdu mengetuk kalbu Menari bersama ombak dan badai membuatku mampu Meredekan amarahku dalam angin menderu Bilamana suatu hari nanti aku dan kamu bertemu Biarlah bintangku yang menuntun menemukanku Namun bila jumpa dan sua akhirnya pun meragu Ku yakin dirimu telah dituntun oleh bintangmu  Bukankah awan dan hujan pun seperti itu Bukankah pun demikian akan api dan kayu berbalut sinar senja datang dan pergi  dirundung heningnya ...