Posts

Bahasa dan Kekeliruan Logika

Image
Kepada anak zaman nir akal yang baik, Selamat datang dunia 2017... Apa manfaat belajar logika? Tentu saja ini aneh untuk orang awam, karena logika adalah sesuatu yang sudah ada, digunakan, dialami, dan dimiliki seseorang yang nota bene waras. Lantas apa gunanya? E. Sumaryono (1999) dalam kata pengantar bukunya menyebutkan bahwa ada banyak keuntungan mempelajari logika, antara lain mempertinggi kemampuan untuk menyatakan gagasan-gagasan secara jelas dan berbobot, meningkatkan keterampilan menyusun definisi atas term dan kata-kata, serta memperluas kemampuan untuk merumuskan argumentasi dan memberikan analisisnya secara kritis. Akan tetapi, manfaat tertinggi adalah pengetahuan dan pengakuan bahwa akal budi atau nalar kita dapat kita terapkan pada setiap aspek kehidupan manusia. Dengan kata lain, kita menggunakan akal budi sebagai alat bereksistensi. Kartun Rene Descartes karya Joost Swarte. New Yorker cover art. Descartes menyatakan bahwa manusia seringkali ditipu oleh ibli...

Kaleidoscope 2016

Setelah cukup lama tinggal dan mengabdi di menara gading, tanpa romansa dan hanya ingatan akan luka.. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kota penuh sejuta nostalgia. Kulempar dan kulepeh begitu saja segala pil-pil pahit yang ditawarkannya kepadaku. Pil kekuatan, Pil kepandaian, Pil kehormatan, Pil keaggungan, Pil apa lagi... apapun itu terasa pahit dan sulit dicerna. Segalanya adalah racun-racun bagi tubuhku ini... Untuk apa itu semua? Untuk dunia...? Aku memutuskan kembali pulang ke kota kelahiranku, untuk mempersiapkan segala impian yang tak kunjung nyata. Mimpi yang mulai menjadi ilusi. Kesemuan dibalik idealisme diri... Hmm..tidak, aku hanya pulang sebentar, hanya untuk menyiram tanaman-tanaman yang hampir kering.. tanaman yang kelak akan menjadikan tempat bernaung buat aku dan kamu dikala hujan deras. Toh ini hanya masalah di kesementaraan. Aku hanya butuh tempat embarkasi sebelum melompat ke momentum yang lain lagi. Berat hati... Sesak dan khawatir... Akan tetapi...

Pilar Pertama: Mental—Kecurigaan dan kedalaman pemikir seorang Soliter

Image
Sumber: http://saimg-a.akamaihd.net/saatchi/7488/art/1410234/674710-7.jpg Suatu hari aku membaca ulasan dalam blog seorang yang berprofesi pengajar . Dia begitu berapi-api, menarik dan menyulam berbagai benang pemikiran. Kesibukannya yang mencoba memahami realitas interaksi manusia, homo homini socius dibedahnya tanpa ampun. Buah-buah pemikiran dari nama-nama besar pemikir sosial pun menjadi bintang-bintang paling terang di antara gelapnya langit semesta. Tulisannya tidak mudah dikunyah, penuh dengan konsep dan konstruk, teori dan eksplanasi. Ketika aku membacanya pun mungkin secara naif aku dapat segera percaya, toh ketika aku membaca profilnya, ia menyandang gelar tertinggi yang dapat diraih seorang mahasiswa dalam pendidikan formal di negeri ini. Namun seorang guru pernah berujar, untuk menaruh curiga terhadap siapa saja yang mengklaim dirinya adalah sumber kebenaran, para filsuf dan sejenisnya.    Ada rasa kurang nyaman dan sekaligus kecurigaan. Bukan b...

Anomali

Image
Pagi ini aku membuka buku yang tadi malam kubeli dari toko. Kubedah pembungkus plastiknya dan lalu kucoba buka secara asal pada bagian halamannya, tanpa disangka aku tiba pada halaman berjudul ANOMALI: PR BANGSA! Menarik, ketika membuka teks hari pada hari kemerdekaan dan sudah hadir sebuah anomali. Namun aku jauh lebih terhenyak lagi ketika merunut untaian kalimat dan kata yang berhasil menghentikanku untuk mampir sejenak, …Anomali di ranah rasa: kegagalan relasi cinta atau interaksi rasa merasai (Sutrisno, 2013, hal.74). Hmm.. aku hanya sanggup menghela napas panjang. Kata anomali bukan terma asing untukku, bahkan justru kata itu menjadi pekerjaan panjang dalam ranah positivistik, yang baru berhasil kupecahkan secara sebagian. Namun ternyata anomali ini tidak hanya merepotkan di pasar modal, namun juga merepotkan pada level negara? Anomali tentu saja sebuah kata yang jamak dan tidak mengandung kesan berbahaya bagi awam. Namun bagaimanakah bagi si anomali itu sendiri? Apakah...

Membuat Telaah Kritis (6) : Karangan ilmiah dan alur berpikir induktif (kualitatif) atau deduktif (kuantitatif)

Image
Memeriksa sebuah karangan tentu saja menuntut keterampilan tersendiri. Menulis itu tidak mudah, jika ada yang bilang mudah, tentu saja si penulis itu sudah memiliki ketrampilan itu terlebih dahulu atau hanya memberikan alasan normatif yang bersifat motivasional. Namun untuk orang yang tidak terbiasa menulis, maka untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tertulis akan menuntut sumberdaya pikiran si penulis yang tidak sedikit. Jerih payah si penulis ini akan sebanding dengan pengalamannya dalam mengolah pengetahuan. Artinya, semakin banyak membaca, memperkaya referensi, semakin mudah dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Pengalaman penulis dalam hal ini adalah perihal menggunakan bahasa dalam menyampaikan gagasan itu lebih penting. Terutama penyampaian gagasan pada pembuatan telaah kritis. Dalam penyampaian gagasan pun, penulis sepakat dengan Rahardi (2009), yaitu hendaknya tetap berprinsip pada kejelasan (clarity) , ketepatan (accuracy) , dan keringkasan (brevity) . ...

Membuat Telaah Kritis (5) : Bepikir lurus

Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu “Membuat Telaah Kritis bag. 4: Memeriksa suatu Kritik” , sajian kali ini penulis akan lebih mendasarkan terlebih dahulu pada tata cara berpikir lurus, dan logika penalaran. Mengapa demikian? Dalam ranah ilmiah atau di dunia akademis, apapun bentuk tulisannya maka satu-satunya alat yang dimiliki manusia adalah “logika”. Dengan alasan itu pula apapun bentuk model pemikirannya, maka secara konsekuensi logika antroposentris, sepanjang lolos pemeriksaan hukum-hukum logika, maka secara normatif akan terhindar dari pelbagai kesalahan atau kesesatan berpikir. Apa itu berpikir lurus? Berpikir lurus itu bukan hal yang mudah, karena mengandung unsur habitus disana. Fenomenanya, banyak orang terjebak dengan cara berpikir yang itu-itu saja [1] , sibuk memutlakkan hasil penyimpulannya, percaya begitu saja dengan argumentasi-argumentasi yang sudah deterministik, dan menggunakannya untuk mempengaruhi orang lain agar sepakat dan sekaligus mengkonfirmasi bahwa pik...